Senin, 23 September 2013

Gaya Komunikasi 2 Presiden Indonesia

GAYA KOMUNIKASI PRESIDEN SBY

Perhatikan bahasa tubuh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono , Mengapa sby menggunakan telapak tangan terbuka keatas? 

Masih menurut pakar bahasa tubuh, Allan dan Barbara Pease (”The Difinitive Book of Body Language”), seseorang yang menggunakan telapak tangan terbuka keatas ketika sedang berbicara ingin menunjukan honesty (kejujuran) dan sincerity (ketulusan). Begitulah cara politisi mengirim sinyal positif melalui bahasa tubuh. Mereka selalu ingin tampak jujur dan tulus walau kita semua tahu seringkali mereka ingkar janji.

Tapi, mengirim sinyal positif melalui bahasa tubuh bukan untuk politisi saja lho… kita pun yang kerjanya prospek orang sangat perlu perhatikan bahasa tubuh kita. Sering-seringlah menggunakan telapak tangan terbuka keatas saat prospek! Berikut artikel menarik yang dimuat di harian surat kabar Kompas online. Semoga bermanfaat!

Bahasa tubuh merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan saat melakukan komunikasi antara dua orang. Pandangan mata, gerakan tubuh, gerakan tangan, dan lain-lain saat berbicara merupakan bagian dari bahasa tubuh. Tahukah Anda kapan mengirimkan sinyal positif?

1. Menatap mata saat berbicara.
Hal ini menandakan bahwa Anda mendengarkan dan menghargai lawan bicara. Di lain pihak juga menandakan bahwa Anda yakin dengan pendirian. Tentunya, penggunaan eye contact ini harus dilakukan dengan hati-hati, jangan sampai Anda dianggap menantang lawan bicara.


2. Menggunakan tangan.
Hal ini kerap dilakukan banyak orang untuk membantu menjelaskan informasi yang disampaikan sehingga penjelasan pun semakin deskriptif. Lagipula dengan penggunaan tangan ini akan menarik perhatian orang untuk lebih tertarik dan mendengarkan Anda. Misalnya, ungkapan kegembiraan sering ditunjukkan dengan tangan yang terbuka dan sedikit ke atas, bila menyatakan rasa sakit hati dengan mengatupkan tangan di dada, dan sebagainya. Tanpa disadari, dengan melakukan hal ini emosi lawan biara pun akan lebih terbawa.


3. Genggaman tangan yang erat.
Saat berkenalan, dapat ditemukan berbagai jenis genggaman tangan, mulai dari yang sangat erat hingga yang sekadar menyentuh hingga terkesan basa-basi. Sebaliknya, genggaman tangan yang erat saat berjabat tangan dapat mengirimkan
sinyal pada lawan bicara bahwa Anda adalah tipe orang dengan kepercayaan diri yang tinggi, hangat dan tegas.


4. Anggukan kepala.
Di Indonesia, anggukan kepala berarti bentuk persetujuan. Di sisi lain, gerakan ini memberikan sinyal positif pada orang lain bahwa Anda tertarik dengan pembicaraannya.


5. Berbicara perlahan.
Berbicara perlahan menandakan bahwa Anda adalah orang dengan kepribadian tenang dan tidak gegabah. Secara tidak langsung juga menegaskan kepercayaan diri Anda yang tinggi. Sebaliknya dengan berbicara cepat, menunjukkan ketegangan
(nervous) pada diri Anda.


6. Ekspresi wajah.
Bahasa tubuh yang satu ini tak dapat dihilangkan pada saat berkomunikasi dengan orang lain. Sunggingan senyum di wajah akan memancarkan sifat keramahan Anda dan pribadi yang hangat. Berbeda halnya dengan wajah muram, yang cenderung
menyiratkan sifat angkuh atau pemarah.


7. Umpan Balik
Perhatikanlah juga respon atau kesan pendengar atas komunikasi anda. Hal ini akan dapat memberi kita informasi, apa yang selanjutnya akan kita katakan.




GAYA KOMUNIKASI PRESIDEN MEGAWATI


     Membicarakan Megawati merupakan suatu hal yang sangat menarik, bukan hanya karena Mega putri sang proklamator Bung karno, tapi juga karena Megawati adalah presiden perempuan pertama di Indonesia. Perjalanan politiknya mirip dengan Corazon Aquino dari Philipina atau Benazir Bhutto dari Pakistan.
     
Kemiripan dengan Aquino adalah karena dua-duanya adalah seorang ibu rumah tangga yang menjadi simbol perlawanan terhadap kekuasaan otoriter di negaranya masing-masing. Dengan Benazir Bhutto, kemiripan Megawati adalah karena sama-sama lahir dari keluarga mantan presiden. Yang membedakan ketiganya adalah gaya politik Mega lebih santun, lembut dan low profile serta lebih banyak pasif.

Gaya seperti ini yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai suatu kelemahan. Dalam buku Mereka Bicara Mega (2008) ada komentar Frans Magnis Suseno, sikap pasif dan banyak menunggu Megawati dianggap sebagai suatu kelemahan. Jika mega lebih pro aktif menurutnya, tahun 1999 Mega sudah jadi Presiden. Saat itu terkesan sedemikian pasif, cenderung menunggu, seolah-olah jabatan presiden sudah di tangan. Akhirnya gerakan politik yang di motori Poros Tengahnya Amin Rais menjukirbalikkan fakta, Megawati ketua umum PDI Perjuangan yang menguasai mayoritas parleman kalah oleh Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam sidang umum MPR RI tahun 1999. Saat itu Presiden dan Wakil Presiden masih dipilih oleh MPR.

Masih menurut Magnis, setelah menjadi Presiden sikap megawati ternyata tidak banyak berubah, tetap pasif dan pelit bicara. Hal ini menyebabakan pada pemilu legaslatif tahun 2004 perolehan suara PDI P turun cukup drastis, dari 32 persen menjadi 18 persen, turun sekitar 2/5 dari perolehan suara tahun 1999. Ada kepemimpinan yang kurang ”pas” dari diri Megawati, hal ini juga menjadikannya gagal terpilih kembali menjadi Presiden, kalah oleh mantan bawahannya Susilo Bambang Yudhoyono yang di usung Partai Demokrat dengan pasangannya Jusuf Kalla dari Golkar.

Solahudin Wahid, adik kandung Gus Dur, mantan calon wakil presiden pasangan Wiranto pada Pilpres 2004 berpendapat, Megawati dalam pandangannya adalah sosok yang terkesan kurang ramah. Apa karena Ibu Mega pendiam, boleh jadi ya, tapi bisa juga tidak. Menurut tokoh yang pernah menjadi anggota Komnas HAM dan sering dipanggil Gus Solah ini, orang yang mempunyai sifat pendiam bisa bersikap ramah, paling tidak senyum, mengangguk, atau ramah kalau ketemu orang lain.
Jalaluddin Rakhmat atau sering dikenal sebagai kang Jalal, tokoh komunikasi kelahiran Bandung ini mempunyai penilaian terhadap Megawati. Walau Megawati dengan Benazir Buttho bagai pinang di belah dua, tapi Mega di anggap kurang berani, kurang tegas dalam pernyataan dan sikap politiknya.

Anies R Baswedan, Rektor Universitas Paramadina punya penilaian sendiri terhadap Megawati. Alumnus UGM ini berpendapat Megawati dalah sosok politisi yang santun dan memiliki ambang kedewasaan dalam berpolitik. Ketika Megawati kalah dari Gus Dur dan massa pendukungnya kecewa, Ibu Mega meminta dengan lembut agar rakyat menerima dan tidak anarkis. Ia juga meminta agar merelakan dirinya menjadi wakil Presiden, mendampingi Abdurrahman Wahid sebagai Presiden Republik Indonesia. Tindakan demikian, menurut Anies yang semasa kuliah di UGM pernah aktif di HMI-MPO, menunjukkan sikap yang mengajarkan banyak hikmah kepada para politisi, agar memiliki sikap lebih mementingkan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan partai.

Sementara menurut Yudi Latif, seorang pengamat politik lulusan Australian national University, Camberra. Megawati dalah sosok Nasionalis Religius, tidak heran karena ibunya, Fatmawati adalah puteri tokoh Muhammadiyah yang berasal dari Sumatera. Oleh karena itu, manakala Megawati mempunyai perhatian terhadap Ke-Isalaman tentulah bukan hal yang aneh.

Menurutnya, Megawati mempunya karakter kuat dalam membela kedaulatan nasional seperti bapaknya Soekarno. Termasuk didalamnya membela orang Islam dari intervensi asing. Misalnya, Megawati berani menolak permintaan asing untuk menyerahkan ketua Majelis Mujahidin Indonesia Abu bakar Ba’asir dideportasi ke Amerika Serikat. Sikap ini lebih pada untuk mengayomi tehadap warga negaranya, kendati Ba’asir dianggap sebagai bagaian dari Islam radikal.

Yudi menganggap sikap ini cukup Islami, karena menekankan nilai keadilan yang sangat diajurkan dalam Islam; bahwa janganlah kebencianmu terhadap satu kelompok membuat kamu bertindak tidak adil. Meski mungkin saja, Megawati secara diametral bertentangan dengan idiologi yang dikembangkan oleh Abu bakar ba’asir.
Tapi problemya adalah citra Megawati diruang publik sudah terlanjur sebagai sosok yang pendiam, pasif, dan tidak pro aktif. Mohamad Sobari sosok budayawan, yang ketika era Presiden Megawati pernah menjadi Pemimpin Umum kantor Berita Antara mengatakan sebagai pemimpin Megawati dikenal pendiam. Kalau ada masalah yang ruwet Cuma mesem (tersenyum) dan ada kalanya dalam menyikapi suatu permasalahan terkesan menyepelekan. Walau tindakan politiknya kongkret.

Menurut laksamana Sukardi, Megawati adalah tipe pemimpin yang tidak memahami masalah. Pola komunikasinya tertutup, sedikit bicara, penuh kecurigaan, pengetahuannya terbatas dan pendendam. Tapi dengan orang dekatnya Mega bisa bicara rileks dan terbuka, tapi lebih suka membicarakan hal-hal biasa, misalnya masalah pribadi.

Hal senada juga di sampaikan oleh Hendropriyono, pola komunikasi Megawati sangat tergantung dengan siapa ia berbicara. Kalau dengan orang dekat, baik menteri atau pengurus partai yang mempunyai kedekatan khusus, ia bisa santai dan terbuka sekali.

Ibu Megawati tidak bisa berkomunikasi secara efektif, lebih suka diam atau menebar senyum daripada bicara. Senyum yang hanya dia sendiri yang mengetahui apa artinya.Pidatonya tersa hambar, suaranya benar-benar datar, nyaris tidak ada bahasa tubuh selama pidato. Megawati membaca kata perkata secara kaku seolah takut kedua matanya lepas dari teks pidato didepannya. Tidak articulate, susah di ajak ngomong serius. Jika pembicaran mengenai pekerjaan, atau negara, daya fokus Mega sangat terbatas, konsentrasinya kurang cukup untuk terus menerus fokus ke permasalahan. Komunikasi politiknya konteks tinggi dan kadar konsistensinya kurang. Komunikasi politiknya didominasi oleh keluhan dan uneg-uneg, nyaris tidak pernah menyentuh visi-misi pemerintahannya. Tanpa diragukan lagi, ia sangat pendendam.